Mengunjungi Desa Adat Di Bali: Menyaksikan Kehidupan Tradisional Bali

Mengunjungi Desa Adat Di Bali: Menyaksikan Kehidupan Tradisional Bali – Setelah mengunjungi kota surabaya, kami menuju ke pelabuhan ketapang, banyuwangi untuk menyebrang ke pulau bali. FYI, ini pertama kalinya saya naik perahu, gaess *lengket. Dalam perjalanan saya sangat takut akan terjadi sesuatu. Bayangkan, puluhan bus, ratusan penumpang, berdesakan dalam satu perahu! Dan Alhamdulillah kami tiba di Bali dengan selamat 🙂

Sesampainya di pelabuhan Gilimanuk kami disambut oleh patung raksasa Dewa Siwa. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk di Bali sebagian besar menganut agama Siwa/Hindu. Siwa adalah salah satu dewa utama agama Hindu yang memiliki kekuatan untuk mencairkan alam semesta.

Mengunjungi Desa Adat Di Bali: Menyaksikan Kehidupan Tradisional Bali

Setelah mandi dan bersih-bersih di Denpasar, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan pertama Pulau Bali yaitu Desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Jujur, baru pertama kali saya mendengar nama kota ini. Kita mungkin lebih mengenal Desa Panglipuran yang kini menjadi desa wisata yang terkenal di kalangan wisatawan. Namun katanya, desa Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa tertua di Bali yang masyarakatnya memiliki budaya yang berbeda dengan kebanyakan orang Bali. Hmmm menarik.

Saatnya Anak Muda Kembali Ke Desa Dan Belajar Dari Masyarakat Adat

Rombongan MPA IESP diterima oleh perangkat desa yaitu Bpk. Dibuat. Tn. Made juga menjelaskan sedikit tentang keunikan desa Tenganan Pegringsingan. Desa Tenganan Pegringsingan merupakan desa yang berstatus “Bali Aga”, yaitu desa yang masyarakatnya masih berpedoman pada aturan dan adat yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya sebelum kedatangan penduduk Kerajaan Majapahit.

Di Bali hanya ada tiga desa yang berstatus desa “Bali Aga” yaitu Desa Trunyan Kabupaten Bangli, Desa Sembiran Kabupaten Buleleng dan Desa Tenganan Pegringsingan Kabupaten Karangasem.

Desa Tenganan Pegringsingan memiliki pola dan aturan yang teratur yang disebut ‘awig-awig’, yang ditulis pada abad ke-11. Awig-awig mengatur kehidupan masyarakat Tenganan berdasarkan masalah perkawinan, lingkungan, warisan, dll. Misalnya, jika penduduk desa Tenganan Pegringsingan menikah dengan orang di luar desa, maka desa tersebut tidak lagi dianggap sebagai penduduk desa Tenganan Pegringsingan. Ada juga aturan menebang pohon sembarangan.

Bisa dikatakan penerapan awig-awig di desa Tenganan sangat pasti dan tidak pandang bulu. Ada pun hukuman bagi pelaku kejahatan mulai dari denda, sikang (dilarang masuk ke rumah tetangga, pura desa dan dilarang naik Bale Agung), hingga Kesah, (diusir dari kawasan desa). Wah, bisa jadi contoh yang baik bagi pemerintah dalam penegakan hukum.

Desa Wisata Bali

Meski masih memegang teguh tradisi leluhur, bukan berarti masyarakat desa ini anti modernisasi. Menurut pengamatan saya, masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan juga menggunakan peralatan masyarakat modern seperti sepeda motor, baju, televisi, handphone dan listrik. Menurut Pak Made, banyak anak dari Desa Tenganan Pegringsingan yang merantau ke luar desa untuk melanjutkan pendidikan.

Sebagai masyarakat yang berstatus “Bali Aga” atau Bali Asli, tradisi masyarakat Tenganan Pegringsingan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang merupakan penduduk asli pulau Bali. Orang Bali asli adalah penduduk yang telah mendiami pulau Bali jauh sebelum pemeluk Hindu pengikut Majapahit pindah ke Bali. Di antara perbedaan antara Bali Aga dan Bali Majapahit adalah masyarakat yang tidak mengenal tradisi Ngaben (pembakaran jenazah).

Jika ada warga yang meninggal maka akan dikuburkan di kuburan (setra) bukan dikremasi (dikremasi). Begitu juga dengan Hari Raya Nyepi yang sebagian besar dirayakan oleh umat Hindu Bali. Warga Desa Tenganan Pegringsingan belum mengenal tradisi Nyepi.

Masyarakat Pegringsingan sangat menghormati Dewa Indra. Pemujaan Dewa Indra dilakukan melalui tradisi “Mekare-kare” atau perang panda. Perang Panda dilakukan oleh sepasang pemuda yang saling bertarung menggunakan daun panda berduri. Ritual perang panda biasanya dilakukan pada bulan Juni. Sayang sekali saya tidak sempat menyaksikan perang panda saat saya berkunjung.

Di Banyuwangi Ada Kampung Pancasila, Ini Penyebabnya

Sebagian besar penduduk desa Tenganan Pegringsingan berprofesi sebagai petani dan pengrajin. Salah satu kerajinan khas desa ini adalah Kain Tenun Gringsing. Kain Gringisng inilah yang kemudian menjadi cikal bakal nama “Pegringsingan”. Penduduk desa juga menjadikan proses pembuatan kain sebagai daya tarik wisata.

Pembuatan kain garmen menggunakan teknik double knotting yang merupakan satu-satunya kain di Indonesia yang menggunakan teknik ini. Pewarna yang digunakan juga berasal dari alam. Waktu pengerjaannya cukup lama, antara 1 hingga 6 bulan. Apakah Anda ingin tahu harganya? Jangan kaget nak. Bisa jadi sekitar puluhan juta!!! Tentunya dengan mempertimbangkan proses pengolahan yang lama dan bahan alami yang digunakan. Apakah Anda ingin kain tradisional yang tidak dilestarikan? Kain Gringsing jawabannya!

Selain kerajinan tenun, ada juga kerajinan lain yang dihasilkan masyarakat desa Tenganan Pegringsingan, seperti kerajinan dari cangkang telur, ukiran kayu, dan kerajinan dari daun lontar. Ada pula warga Desa Tenganan Pegringsingan yang mengandalkan potensi alam, yakni berprofesi sebagai petani madu dan getah.

Penduduk kota ini sangat ramah. Pengunjung dipersilakan untuk bertanya dan menyaksikan proses pembuatannya. Saat kami berkunjung ternyata sedang berlangsung upacara adat (tapi kami tidak tahu apa namanya). Ada penari, ada sesaji, ada kerbau, ada ayam dan warga berbondong-bondong pergi ke pesta.

Mengunjungi 4 Destinasi Wisata Budaya Di Bali

Bagi yang ingin merasakan budaya Bali yang “anti mainstream” bisa banget datang ke desa Tenganan Pegringsingan. Budaya yang unik, penduduk yang ramah, lingkungan yang indah, kerajinan tangan yang menakjubkan, bangunan tradisional tua, inilah hal-hal yang akan Anda temukan di kota ini. Berapa harga tiket masuknya? Nah, pengunjung hanya diminta jujur ​​membayar biaya masuk.

Sore harinya kami tidur di balai kota untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau dewata, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi pasar legendaris di Bali. Senapan? Tunggu kelanjutannya! Kehidupan, agama dan seni bertemu di Bali. Mereka tidak memiliki kata dalam bahasa mereka untuk “artis” atau “seni”. Setiap orang adalah seniman. Tempat wisata di Bali memiliki magnet tersendiri. Terkenal dengan keindahan, keramahan dan kekayaan budayanya, Bali tetap menjadi destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara meski pandemi covid-19 belum berakhir.

Hal ini dibuktikan dengan penghargaan Tripadvisor Traveler Choice Award 2021 yang diterima Bali awal tahun ini. Bali mendapat penghargaan dari Media International London sebagai destinasi terpopuler di dunia. Dengan meluncurkan situs disparda.baliprov.go.id, Bali berhasil mengalahkan kota London, Paris, Dubai, Roma, dan Bangkok dalam penghargaan ini.

Tempat wisata Bali yang bisa dipilih adalah desa wisata yang tersebar di Bali. Selain bisa menikmati alam Bali yang unik, disini kita bisa langsung melihat pesona tradisional yang merupakan budaya asli Bali.

Serunya Menikmati Sensasi Liburan Sekolah Di Bali

Menurut Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli, kata Penglipuran berasal dari kata Pengling Pura yang artinya tempat suci untuk memuja leluhur. Desa Penglipuran terletak di Desa Kubu, Kecamatan Bangli, Dati II Kabupaten Bangli. Jarak dari Denpasar ke desa ini adalah 45 km dan 5 km dari pusat kota Bangli.

Daya tarik wisata kota ini memiliki beberapa aspek, namun yang paling terkenal adalah sistem bea cukai. Itu sebabnya kota ini juga sering disebut sebagai kota tradisional.

Adat desa wisata ini adalah Awig-Awig yang dilandasi oleh tiga hal yang disebut Tri Hita Karana. Tri Hita Karena mengatur hubungan masyarakat desa Penglipuran dengan manusia dan Tuhannya, yang meliputi tempat-tempat suci dan hari-hari suci yang disebut Prahyangan.

Kemudian Pawongan, yaitu mengatur hubungan antara orang dengan orang lain, salah satunya mengatur masyarakat setempat dengan orang lain. Bentuk pawongan meliputi perkawinan, organisasi dan lain-lain.

Wisata Bali Terpopuler Yang Wajib Dikunjungi, Dari Pantai Hingga Budaya

Yang terakhir adalah hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Yayasan inilah yang membuat masyarakat desa Penglipuran sangat mencintai alam dan selalu menjaganya.

Ketiga landasan inilah yang membuat masyarakat desa Penglipuran dan sekitarnya menjadi desa yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Desa Cempaga atau Desa Adat Cempaga terletak di Kecamatan Bangli, Kabupaten Buleleng. Desa ini berjarak 43 km dari Denpasar dan 3 km dari desa Penglipuran.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli mengatakan, di Desa Cempaga terdapat Pura Kehen yang merupakan pura tertua di Bali. Prasasti Candi Kehen berisi petunjuk bagi penduduk desa untuk melakukan upacara besar.

Fakta Unik Tentang Desa Batuan Bali Dengan Seni Lukisnya

Ada dua upacara yang bisa dinikmati wisatawan. Yang pertama adalah upacara Piodalan yang berlangsung selama lima hari, dimana selama lima hari tersebut seluruh Banjar dari 9 desa datang untuk memberikan penghormatan secara bergiliran.

Kemudian diadakan upacara setiap tiga tahun sekali yang disebut Ngusaba Dewa yang berlangsung selama 9-11 hari.

Dari kedua upacara tersebut, kegiatan yang paling menarik adalah prosesi upacara Melasti yang dihadiri oleh ribuan orang dan kelompok gamelan pengiring. Prosesi ini dilakukan dengan berjalan kaki dan saat upacara selesai desa secara bergiliran menampilkan tarian sakral.

Desa Tenganan merupakan salah satu desa tua di Bali. Desa ini terletak di kecamatan Manggis. Jarak yang ditempuh jika dari kota Denpasar sekitar 65 km, sedangkan dari kota Amlapura yang merupakan ibu kota kabupaten berjarak 17 km.

Menyemai Kerukunan Dan Menjaga Keajegan Budaya Bali

Menurut pemerintah Karangasem, keunikan desa ini adalah pola hidup masyarakat desa Tenganan yang menganut budaya dan adat kehidupan masyarakat Bali Aga (pra-Hindu) yang berbeda dengan masyarakat Bali lainnya.

Ada pula tradisi ritual Mekare-kare atau yang dikenal dengan perang panda yang merupakan puncak dari prosesi upacara Ngusaba Sambah yang dilaksanakan setiap bulan Juni selama 30 hari.

Desa ini juga terkenal dengan kerajinannya yang disebut tenun ganda Grinsing, yang membutuhkan waktu hingga 3 tahun untuk menenun. Dasi kain Grinsing ini wajib dimiliki saat upacara.

Jadi jika anda berkesempatan berwisata ke tempat wisata Bali, jangan lupa untuk mengunjungi salah satu desa wisata di atas. Jangan lupa ikuti protokol kesehatan selama liburan ya! – Desa Penglipuran, keindahan desa menarik banyak wisatawan dari berbagai negara untuk mengunjungi desa adat yang memiliki ciri khas tersendiri ini. Tempat wisata di pulau dewata, Bali, menjadi destinasi populer. Bali merupakan primadona tempat wisata di Indonesia.

Mengulik Keunikan Desa Wisata Wae Rebo

Bersama dengan Bpk. Sewa sopir dan kendaraan Rp. 600.000 sehari. Dengan mobil sewaan ini saya mengunjungi salah satu desa adat yang namanya sering terngiang di telinga saya. Tentu saja, berita ini membuat saya

Artikel Terkait

Leave a Comment